Rabu, 23 Maret 2011

khotbah hari ibu (desember 2010)

Doa yang dijawab karena kesetiaan hidup beriman
Lazim orang berkata bahwa faktor bibit, bebet dan bobot itu penting dalam hidup keluarga. Bibit berbicara soal asal-usul atau keturunan siapa, bebet: soal lingkungan keluarga besarnya dan bobot: soal kualitas pribadi, termasuk kekayaan, pekerjaan dan iman seseorang. Kesempurnaan demikian minimal dapat menjamin kebahagiaan hidup di masa depan. Profile keluarga Zakharia (ay. 5-6) mengacu pada gambaran keluarga sempurna: keturunan baik-baik,  keluarga terpandang dan bekerja pada tempat terhormat sebagai keluarga imam. Kita dapat sepaham bahwa gambaran keluarga demikian menjadi harapan kita jika tidak terlalu mempersoalkan kekurangan kecil yang selalu ada dalam tiap rumah tangga.
Zakharia tidak hanya gembira dengan tugas keimamannya, tetapi juga konsisten dalam pelayanan yang  dipercayakan padanya sampai masa tuanya. Zakharia tidak hanya bertindak sebagai imam di bait Allah tetapi juga berfungsi sebagai imam dalam keluarganya. Terbukti Zakharia tidak menyalahgunakan jabatan pelayanan untuk mengejar kesenangan dan kekayaan pribadi (lihat perilaku keluarga imam Eli dalam 1 Samuel 2: 12-17). Zakharia bersama istrinya selalu hidup sesuai firman Allah.
Zakharia dan Elisabeth menjadi contoh suami-istri yang dapat diteladani bagi setiap pasangan suami-istri yang setia mengasihi Tuhan Yesus, tetapi juga melayani Tuhan Yesus dengan benar mulai dari rumah tangga sendiri sampai dalam persekutuan jemaat. Tidak hanya bangga dan gembira kalau suami atau istri sebagai pelayan Tuhan tetapi juga turut mendukung pelayanan secara maksimal dengan sepenuh hati.
Mengapa dikatakan dengan sepenuh hati? Bukankah banyak yang melayani tetapi dengan separuh hati, dengan hati yang bercabang, dengan hati yang penuh dengan kepalsuan. Melayani hanya untuk memperoleh jabatan, gengsi dan kehormatan dunia.  Tidak demikian dengan keluarga Zakharia. Keluarga ini saling menopang dalam pelayanan. Zakharia tidak hanya aktif dalam pelayanan di Bait Suci. Zakharia juga tekun mendoakan kebahagiaan istrinya bertahun-tahun. Apa gerangan? Sebab istrinya Elizabeth belum juga hamil  dan secara medis dikatakan mandul. (ay. 7) Jelas suatu cobaan yang berat dan tidak mudah dihadapi. Bukankah banyak pasangan rumah tangga bercerai karena soal keturunan yang belum ada, atau  menikah kembali untuk memperoleh anak demi gengsi pribadi dan keluarga besar. Sisanya ada yang pergi kepada kuasa kegelapan dengan harapan diberikan keturunan, namun hasilnya nol besar dan hanya menambah kekecewaan makin besar.
Zakharia mengasihi istrinya dan mendoakannya terus menerus bertahun-tahun sampai usia mereka lanjut.  Zakharia tidak menjadi marah  karena kehidupan rumah tangganya itu, karena istrinya selalu mendukung pelayanannya; istrinya selalu mengutamakan Allah sehingga dia menghormati suaminya dan tidak menghina suaminya (istri yang merasa sehat menghina dan menyalahkan suaminya karena tidak bisa memberi keturunan).
Zakharia dan Elizabeth pastinya hidup dengan penuh ucapan syukur. Mereka menerima segala sesuatu dalam hidup ini dengan sukacita dan  selalu berusaha hidup menyenangkan hati Tuhan. Kesetiaan dalam pelayanan berujung dengan manis; mendatangkan berkat yang tak terbilang. Zakharia diberi tugas untuk  membakar ukupan pada mezbah ukupan di Bait Suci. Ukupan artinya persembahan wangi-wangian  yang dipersembahkan kepada Allah (Kel 30:1-10, 37). Wangi-wangian itu berasal dari campuran rempah-rempah dari bahan getah damar, kulit lokan dan getah rasamala serta kemenyan (Kel. 30:34).
Tugas yang mulia itu dipercayakan Allah kepada hambaNya Zakharia lewat undian. Zakharia mendapat kesempatan istimewa dan terpilih untuk melaksanakan tugas itu. Saat itulah Zakharia menerima perlakuan istimewa dari Allah. Malaikat Tuhan diutus untuk berbicara kepadanya. Allah berkenan menjawab doa keluarga Zakharia. Apa yang selama ini didioakan bertahun-tahun dijawab Allah. Doa mereka didengar Allah dan Allah sendiri berkenan menyampaikan jawaban doa itu lewat malaikatNya.  Anak Zakharia, yaitu Yohanes Pembaptis kelak yang akan membawa banyak orang untuk bertobat dan mempercayai Yesus sebagai Juruselamat.
Firman Allah hari ini mengajak kita semua untuk selalu setia dalam hidup perkawinan, persekutuan dan pelayanan kita kepada Allah. Keluarga Zakharia mengalami dan menerima jawaban doa bukan di saat mereka dalam usia muda dan tidak dalam tempo yang cepat. Mereka berdoa tidak hanya untuk kehadiran seorang anak, tetapi juga untuk keutuhan rumah tangga dan kesetiaan dalam melayani pekerjaan Allah. Keluarga, kehidupan doa dan pelayanan adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Jika demikian tidak ada alasan apapun bahwa sebagai suami-istri untuk enggan dan tidak mau terlibat dalam pelayanan bagi Allah. Sudah sepatutnya sebagai keluarga Kristen, setiap suami aktif dan memberi diri dalam melayani kehendak Allah dalam keluarga dan persekutuan. Di sini memang dibutuhkan komitmen bersama dari suami-isteri untuk melayani Tuhan sehingga jangan sampai pelayanan itu mengganggu keharmonisan keluarga atau malah merusak hidup rumah tangga itu sendiri.
Kehadiran seorang istri sangat berharga dalam mendukung pelayanan suami dalam gereja Tuhan. Keberhasilan seorang suami dalam karier dan pelayanan di dalamnya terdapat sumbangsih seorang istri. Sebagai ibu rumah tangga, pasti banyak hal yang dilakukan sejak matahari terbit sampai tenggelam. Mulai dari membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, memeriksa kesehatan anggota keluarga, menyiapkan jamuan makan  sampai mengelola keuangan keluarga. Kita patut bersyukur sebagai keluarga atas pengabdian tulus seorang ibu dalam  mendukung keberhasilan anggota keluarganya. Peringatan hari ibu, mengajak kita semua untuk berdoa bagi kebahagiaan seorang ibu yang selalu menghabiskan waktu dan perhatiannya bagi kesejateraan keluarganya. Jadi sangat memprihatinkian jika seorang ibu sampai memperdagangkan anaknya sendiri dan membuangnya di tempat sampah karena alasan ekonomi.
Bersyukurlah dan bersukacita jika doa kita dijawab Allah. Untuk banyak hal, kita hidup diberkati. Doa suami-istri apapun itu pergumulannya, tidak hanya sebagai ungkapan batin atas isi hati yang tertumpah bagi Allah, tetapi juga ajakan untuk kita setia hidup bersama Allah sesuai firmanNya. Apakah saudara setia berdoa bertahun-tahun untuk satu pokok perkara doa, misalnya untuk kehadiran seorang anak dalam rumah tangga atau kesembuhan orang yang kita cintai? Apakah saat seperti itu saudara juga mau setia melayani pekerjaan Allah dalam jemaatNya? Ataukah saudara menjadi ragu, putus asa dan menganggap sia-sia aktif melayani Tuhan? Apakah saudara selalu bertemu Tuhan dalam doa dan pelayanan dan merasakan kehadiran Allah yang membawa sukacita? Jika keadaannya bertolak belakang dengan kehidupan keluarga Zakharia, mari saudaraku kita bertobat dan kembali berlaku setia di hadapan Allah.
Pertama-tama yang perlu diperhatikan, dalam keluarga kita harus saling mendoakan dalam nama Yesus, kita mau saling mengasihi dan mengampuni jika ada perkataan kotor dan sikap jahat yang telah dibuat. Kedua, beri diri saudara untuk menjadi pelaku Firman. Tidak usah kita menghakimi orang lain, sebab hanya Tuhan yang adalah hakim Sejati. Ketiga, libatkan diri saudara dalam pekerjaan pelayanan. Ada Tuhan Yesus dalam pelayanan itu. Dia bersama hambaNya. Dia mendengar dan mengetahui isi doa dan keperluan hambaNya. Dia mengasihi kita lebih dari apa yang kita minta dan bayangkan. Jangan saudara lemah, karena kemalasan rekan sepelayanan saudara. Jangan saudara justru bertambah jahat ketika berada dalam pelayanan. Saudara harus dibangun menjadi pribadi yang berkenan bagi Tuhan dan menjadi berkat bagi persekutuan. Kiranya, Minggu Advent ke-4 membuat kita menjadi  keluarga yang setia berdoa dan melayani kehendakNya sampai Tuhan Yesus datang kembali. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar