Total Tayangan Laman

Minggu, 17 April 2011

PERBUDAKAN DALAM KONTEKS YUNANI-ROMAWI PADA MASA PAULUS KHUSUSNYA KEPADA SURAT FILEMON(tgs PB I)

Sebelum masuk dalam pembahasan di atas kita perlu tahu apakah budak itu:
·   Budak adalah orang asing yang menjadi tawanan
·   Harga budak = 30 keping perak
·   Budak merupakan harta dan uang bagi tuannya
                Perbudakan berasal dari kata dasar Budak yang pada umumnya berbicara tentang perihal tuan yang memeperbudak dan hamba yang diperbudak.kata hamba atau budak yang pada dasarnya berarti bekerja,dalam kehidupan primitive bekerja berarti menggarap tanah.Seiring berjalannya waktu,kata bekerja akhirnya diasumsikandengan konsep bekerja bagi orang lain.Jadi secara umum Perbudakan dapat diartikan sebagai keadaan diperbudak,dimana para budak diposisikan untuk tunduk dan mendedikasikan kehidupan mereka,bagi tuannya,sehingga dengan itu mereka dapat dimanfaatkan sebagai pekerja yang dapat melakukan berbagai hal yang dikehendaki sang tuan.
                Perlu diketahui bahwa surat Filemon membawa kita kedalam fokus persoalan perihal perbudakan didalam dunia Yunani-Romawi,dan terutama sekali dalam periode Paulus.Perbudakan telah berlangsung dalam waktu yang lama dan cukup memoliki peran yang penting,sehinngga institusi itu akhirnya diterima sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lapisan,tingkatan ekonomi masyarakat pada masa itu.Asal mula perbudakan dalam kehidupan bangsa Roma berkaitan dengan sejarah peperangan.Setelah imperium Romawi menaklukkan banyak wilayah dalam serangkaian peperangan yang terjadi,maka secara otomatis pihak yang kalah harus menyerahkan segenap harta milik dan sekaligus menjadi tawanan perang yang diharuskan untuk tunduk dalam kekuasaan Romawi. Setelah berstatus sebagai seorang budak,maka ia harus mengabdikan dirinya dengan bekerja dan melakukan beberapa hal demi kepentingan tannya.Dalam keluaraga Yunani-Romawi,para budak diibaratkan sebagai mesin yang dapat melaksanakan berbagai pekerjaan,bahkan mereka menjalankan fungsinya dalam cakupan yang luas.
Maksud dan tujuan dari surat filemon ini adalah ketika sang rasul mengetahui bahwa Onesimus adalah budak milik Filemon yang telah melarikan diri,maka sebagai seorang warga Negara maupun sebagai seorang Kristen,Paulus merasa berkewajiban untuk meluruskan kesalahan yang telah diperbuat budak itu dengan cara mengirimkannya kembali kepada tuannya.Onesimus pun kembali kepada Filemon dengan membawa sebuah surat.Dengan disertakannya surat itu,Paulus ingin menyampaikan maksud hatinya kepada Filemon perihal Onesimus.
                Latar belakang surat Filemon didasarkan pada konflik yang terjadi antara seorang Tuan yang bernama Filemon dan Onesimus,budaknya.Filemon adalah seorang Kristen penduduk kota Kolose yang cukup berpengaruh dikota itu,serta memiliki banyak budak dan juga sebuah rumah besar yang kemungkinan menjadi tempat berkumpulnya para jemaat.Onesimus yang merupakan salah satu budaknya telah melakukan kesalahan dengan mencuri barang milik tuannya kemudian ia melarikan diri.Tidak adanya gambaran yang jelas mengapa sang budak melakukan kesalahan tersebut dan mengambil keputusan untuk meninggalkan tuannya.Namun terdapat kemungkinan bahwa alas an dibalik perbuatannya tersebut berdasarkan pada keinginannya yang besar untuk merasakan kebebasan dan mendapatkan perlakuan yang lebih manusiawi. Berdasarkan hal tersebut,maka sangatlah lazim jika para budak berkeinginan untuk mencari kebebasan.Pada masa itu,upaya yang dilakukan oleh mereka untuk dapat merasakan kemerdekaan yang terdiri dari dua cara yaitu:cara legal dengan mengumpulkan sedikit kekayaan dari upah serta hadiah dan digunakannya untuk membeli kemerdekaan,atau dianugerahi kemerdekaan oleh tuannya.
                        Surat Filemon membawa kita kedalam fokus persoalan perihal perbudakan didalam dunia Yunani-Romawi,dan terutama sekali dalam periode Paulus .Perbudakan telah berlangsung dalam waktu yang lama dan cukup berperan penting,sehingga institusi akhirnya diterima sebagai bagian yang tak terpisahkan dari strata sosial.
                        Paulus memiliki dasar teologi dalam menanggapi berbagai perbedaan yang terdapat didalam masyarakat dimana ia berada,yakni sebuah pemahaman bahwa didalam Kristus tidak ada perbedaan.Pandangan Paulus tidak diartikan sebagai sebuah referensi terhadap penghapusan perbedaan-perbedaan sosial secara luas,dimana ia tidak bertindak secara radikal untuk meniadakan segala hidup perbedaan dalam masyarakat.Namun hal yang dilakukan olehnya adalag menghilangkan berbagai perbedaan sosial tersebut dari kehidupan pribadi-pribadi Kristen dengan berdasarkan pada kesatuan didalam kristus .Mereka yang telah menerima Kristus akan masuk kedalam dunia baru,dimana cir-ciri yang paling menonjol dari identtas mereka adalah kesatuan mereka didalam kristus.Kesatuan dalam Kristus inilah yang merubah segala perbedaan sosial.Dengan demikian,meskipun didalam masyarakat terdapat perbedaan sosial khususnya antara hamba dengan orang yang merdeka,namun bagi Paulus didalam Kristus Perbedaan itu tidak berlaku.
                        Dalam surat Filemon 15-16,dimana ungkapan “Sebagai saudara yang kekasih”yang dikemukakan oleh sang Rasul telah menjadi suatu solusi yang terbaik untuk menekannkan perbedaan sosial diantara tuan dan budak.Setelah Onesimus bertobat dan menjadi milik kristus,Paulus meminta kepada Filemon yang juga telah mengalami hidup baru mereka dengan menjadi Kristen agar menerima budak itu tidak lagi sebagai hamba,tetapi sebagai saudara yang kekasih.Dalam hal ini teologi Paulus menjadi nyata,dimana perbedaan antara budak dan tuannya telah dihapuskan ketika mereka memiliki kesatuan didalam Kristus.Dengan kata lain.Onesimus dan Filemon yang telah menjadi Kristen dan hidup baru didalam kesatuan kristus akan menjadi anak Allah.Dengan demikian,didalam Kristus mereka tidak lagi dianggap sebagai seorang Tuan dan budak,namun nereka sekarang dihubungkan satu dengan yang lainnya sebagai saudara.
                        Selain itu,didalam identitas Onesimus yang baru Paulus tidak mengatakan,bukan lagi seorang hamba,namun bukan lagi sebagai hamba.Sang rasul tidak merubah hubungan soaial diantara Onesimus dan Filemon,namun ia manciptakan hubungan baru dalam bentuk moral dan spiritual.Dalam bentuk moral.Onesimus tetap seorang hamba ,tetapi tidak lagi diperlakukan sebagai hamba,dan dalam bentuk spiritual,sang budak adalah bentuk saudara yang terkasih bagi Filemon di dalam kristus.Dengan kata lain,Paulus tidak membuat serangan secara frontal terhadap  institusi yang tidak manusiawi tersebut dengan menghapus perbedaan antara budak dan orang merdeka secara menyeluruh,namun Paulus memasukkan dinamika kasih Kristen yang memungkinkan untuk mentransformasi perbedaan sosial pada waktu itu kedalam sebuah persaudaraan dalam kristus.
                        Hal inilah yang terjadi dalam kehidupan Onesimus dengan Filemon,dimana hubungan mereka yang lama telah diubah menjadi hubungan baru,yakni sebagai saudara yang kekasih didalam kristus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar