Minggu, 17 April 2011

Tugas Teologi Kontekstual (laporan bacaan)

Berbicara tentang teologi kontekstual dalam Buku Model-model Teologi kontekstual, penulis membahas tentang bagaimana berteologi yang kontekstual. Dalam pengantar penulis menuliskan 2 versi pengertiannya tentang teologi kontekstual, yang pertama ia mengatakan bahwa Teologi kontekstual merupakan proses berteologi yang secara sungguh-sungguh mengindahkan 4 hal yaitu : Roh dan amanat Injil, Tradisi umat Kristen, kebudayaan dalamnya orang berteologi, dan perubahan sosial yang terjadi dalam kebudayaan tersebut. Yang kedua ia menjelaskan bahwa teologi kontekstual adalah Ihwal yang secara sungguh-sungguh menngindahkan dua hal yaitu pengalaman masa lampau yang terekam dalam kitab suci yang diwariskan serta dipertahankan dalam tradisi, dan pengalaman masa kini yaitu sebuah konteks tentang pengalaman individual dan sosial, kebudayaan sekular atau religius, lokasi sosial serta perubahan sosial. Pada intinya ia ingin mengatakan bahwa teologi kontekstual terlaksanakan ketika pengalaman masa lampau melibatkan konteks masa kini.

 Kontekstualisasi teologi merupakan upaya untuk memahami Iman Kristen dipandang dari suatu konteks tertentu. Bagiamana pemahaman kita tentang teologi maka kontekstualisasi merupakan bagian dari hakikat terdalm teologi itu sendiri. Ketika kita memahami teologi sebagai sesuatu yang kontekstual berarti menegaskan sesuatu yang baru dan sekaligus tradisional, pertama-tama teologi kontekstual mengerti hakikat teologi secara baru. Teologi klasik memahami teologi sebagai jenis ilmu pengetahuan objektif tentang iman. Teologi juga dimengerti sebagai sebuah refleksi dalam iman menyangkut dua loci theologici yaitu teologi bersumber dari kitab suci dan tradisi yang isinya tidak bisa dan takkan pernah berubah, dan berada di atas kebudayaan serta ungkapan yang dikondisikan secara historis. Yang membuat teologi itu kontekstual ialah pengakuan tentang keabsahan locus theologicus yang lain yaitu pengalaman manusia sekarang. dengan demikian teologi yang kontekstual harus menyadari bahwa kebudayaan, sejarah, dan bentuk-bentuk pemikiran kontemporer harus diindahkan bersama kitab suci dan tradisi yang merupakan sumber yang absah untuk ungkapan teologis. Sehingga dewasa ini kita mengataka bahwa teologi memiliki tiga sumber yaitu: Kitab suci, tradisi, dan pegalaman manusia sekarang ini atau konteks. Pengalaman atau konteks ditambahkan sebagai sumber teologi karena adanya revolusi atau perubahan pola pikir dan cara memahami dunia, yang merupakan ciri dari subjek yang mencuat pada permulaan zaman modern. Teologi klasik memahami teologi sebagai sesuatu yang bersifat objektif maka teologi kontekstual memahammi teologi sebagai sesuatu yang subjektif yaitu pribadi manusia dan masyarakat manuasia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Charles Kraft bahwa selalu ada perbedaan antara realitas dan pemahaman manusia yang dikondisikan secara kultural atas realitas tersebut. Kita mengira bahwa realitas itu ada diluar sana namun konstruk mental tentang realitas yang ada dalam kepala kita atau dengan kata lain pemahaman kita tentang realitas itulah yang paling rill atau nyata bagi kita. Manusia selalu terikat dengan kondisi kultural, substruktural serta kondisi psikoologis untuk menghindari dan menafsirkan apa yang mereka lihat tentang realitas seturut cara-cara yang cocok dengan kondisi tersebuut. Baik Allah yang mutlak maupun realitas Allah yang diciptakan tidak bisa dipahami secara mutlak oleh manusia yang terikat secara kultural. Jadi realitas itu tidak selamanya “ada di luar sana” tetapi realitas itu “diperantarai oleh makna”, sebagaimana konteks kultural dan historis berperan dalam pembangunan realitas dimana kita hidup maka konteks kita mempengaruhi pemahaman kita tentang Allah dan ungkapan iman kita.
Ada dua faktor yang menjadi dasar mengapa teologi dewasa ini harus kontekstual. Pertama faktor eksterlan dan yang kedua faktor internal. Faktor eksternal : (1) Adanya ketidakpuasan umum mengenai pendekatan-pendekatan klasik tentang teologi, contohnya dalam kebudayaan Masai di Afrika mereka memahami baptisan atau pencurahan air di kepala seorang perempuan merupakan kutukan agar wanita tersebut tidak bisa memiliki keturunan atau mandul; (2) ciri opresif dari pendekatan-pendekatan yang lebih tua, pendekatan-pedekatan lebih tua tentang terhadap teologi dipenuhi dengan pengandaian menyangkut superioritas kaum laki-laki dimana kedudukan laki-laki ditentukan oleh kemampuannya memiliki anak; (3) bertumbuhnya jati diri Gereja-gereja lokal, dimana gereja-gereja mulai memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan kemampuan mereka, jadi apapun yang mereka lakukan seturut dengan kemampuan atau kemauan mereka sendiri; (4) pemahaman tentang kebudayaan yang disediakan oleh ilmu-ilmu sosial kontemporer. Faktor Internal: (1) ciri inkarnatif agama Kristen (2) sakramental dan realitas; (3) pergeseran tentang pemahaman akan hakikat pewahyuan ilahi sebagai sebuah faktor internal yang menentukan ciri kontekstual teologi; (4) dalam agama kristen sendiri menuntut adanya pendekatan kontekstual dalam ihwal berteologi yaitu katolisitas gereja.
Dapat kita lihat disini bahwa kontektualisasi sangat diperlukan dalam teologi masa kini karena banyak sekali kesalahpahaman tentang teologi itu sendiri dalam gereja. Sehingga terjadi kesalahan-kesalahan dalam bergereja atau dengan kata lain pemahaman tentang teologi itu sendiri keluar dari apa yang ada dalam ketiga sumber teologi tersebut di atas yaitu, Kitab suci, tradisi, dan pengalaman atau konteks.
Dalam buku ini juga dituliskan bahwa kontekstualisasi teologi merupakan cara berteologi yang masih baru atau juga belum familiar dengan gereja maka dalam pelaksanaannya sering terjadi persoalan-persoalan yang mempertanyakan tentang Metode teologi, kiblat dasar teologi, kriteria untuk ortodoksi, jati diri budaya berhadap-hadapan dengan teologi dan perubahan sosial. Dalam persoalan-persoalan inipun masih banyak hal yang dipertanyakan. Setelah membaca tulisan ini kita dapat memahami bahwa sebenarnya tidak begitu sulit untuk menjalankan teologi kontekstual itu sendiri asalkan kita memahami dengan benar apa itu kontekstualisasi dalam berteologi itu sendiri dan tentu saja harus didasarkan oleh kitab suci, tradisi atau budaya dan pengalaman atau konteks yang ada saat ini. Karena pola pikir kita selalu berevolusi atau selalu berubah dengan berjalannya waktu, dan juga banyak hal yang akan kita alami dari waktu kewaktu. Dalam hal ini penulis ingin mengatakan bahwa teologi kontekstual itu  sangat penting dalam gereja karena setiap orang yang berteologi digereja selalu berpegang pada Kitab suci, tradisi atau budaya dimana ia berada dan juga pengalaman hidupnya sehingga dari waktu ke waktu pemahaman tentang teoloogi itu akan terus berkembang. Jadi sebenarnya fungsi dari kontekstualisasi itu sendiri ialah untuk menjaga agar tidak terjadi kesalahpahaman kita dalam berteologi.
Di Indonesia teologi kontekstual di kembangkan karena keinginan untuk melepaskan diri dari konteks teologi yang dibawa oleh bangsa Eropa atau sering disebut kolonialisai teologi. Karena pada kenyataannya kita sangat terikat dengan pemahaman teologi kolonial tersebut. Namun saat ini di Indonesia mulai menjalankan sedikit demi sedikit kontektualisasi dalam berteologi di gereja sesuai dengan tradisi atau budaya di setiap daerah, memang sulit untuk melakukan suatu perubahan dalam berteologi kontekstual tetapi dalam buku ini dapat kita simpulkan bahwa gereja perlu mandiri dan perlu membuat sesutau yang baru agar setiap orang yang ada didalamnya dapan memahami iman dan juga Allah dengan lebih baik. Jadi kontekstualisasi ini membantu kita utnuk memahami iman kita dan Allah dalam kehidupan kita dengan berlandaskan pada kitab suci, tradisi, dan pengalaman/kontek yang ada di lingkungan atau dalam kehidupan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar